Di Indonesia Youth Summit 2026, Jerhemy Owen: Peduli Lingkungan Bukan Lagi Pilihan

Jakarta, Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup berhenti pada kesadaran, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata. Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian hari pertama Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 yang menghadirkan diskusi interaktif seputar persoalan sampah plastik, gaya hidup berkelanjutan, hingga peluang karier di sektor lingkungan.
Dalam diskusi tersebut, kreator konten lingkungan Jerhemy Owen bersama aktivis lingkungan sekaligus pendiri Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Tiza Mafira, mengajak generasi muda untuk mengambil peran dalam mengatasi persoalan sampah yang masih menjadi tantangan di Indonesia.
“Menjadi orang yang peduli sama lingkungan bukan lagi opsi, tetapi suatu keharusan, bahkan menjadi survival mode kita,” ujar Jerhemy.
Keduanya menekankan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar. Kebiasaan sederhana, seperti membawa tas belanja sendiri, menolak sedotan plastik yang tidak diperlukan, serta memilah sampah sejak dari rumah, dapat menjadi langkah awal untuk membangun gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
“Mulailah menyadari bahwa ada hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Kita bisa membawa tas belanja sendiri dan mulai menolak menggunakan sedotan plastik,” pesan Tiza kepada peserta.
Tiza Mafira membagikan pengalamannya membangun Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik pada 2013. Berawal dari keresahan melihat tumpukan sampah plastik di sungai dan pantai, gerakan tersebut mendorong perubahan kebijakan sekaligus mengajak masyarakat dan pelaku usaha mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Upaya itu menunjukkan perkembangan. Menurut Tiza, saat ini lebih dari 200 kota dan kabupaten di Indonesia telah menerapkan larangan kantong plastik.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua sampah plastik dapat didaur ulang. Karena itu, mengurangi penggunaan plastik dan mencegah sampah sejak awal harus menjadi prioritas, bukan sekadar mengandalkan proses daur ulang setelah sampah terbentuk.
Tiza turut menekankan pentingnya memilah sampah langsung dari sumbernya, termasuk dari dapur rumah tangga. Pemilahan sampah organik dan anorganik sejak awal dinilai dapat membantu proses pengelolaan sampah menjadi lebih efektif.
Sementara itu, Jerhemy Owen berbagi cerita tentang perjalanannya menekuni isu lingkungan. Ketertarikannya tumbuh sejak SMP, sebelum akhirnya mempelajari ilmu lingkungan di Belanda pada 2020 dan mulai membuat konten lingkungan pada 2022.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Namun, keindahan tersebut kerap terganggu oleh sampah yang ditemukan di pantai, gunung, hingga berbagai ruang publik.
Ia mengajak anak muda untuk membangun kembali hubungan dengan alam dan menyadari bahwa lingkungan yang bersih bukan sekadar persoalan estetika, melainkan berkaitan langsung dengan kualitas hidup manusia.
Ia juga melihat isu lingkungan sebagai peluang masa depan bagi generasi muda. Perkembangan ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi sirkular (circular economy) membuka ruang bagi berbagai profesi untuk berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan.
Kepedulian terhadap lingkungan, menurutnya, tidak hanya menjadi ranah orang yang mempelajari ilmu lingkungan. Anak muda dengan latar belakang bisnis, akuntansi, keuangan, teknologi, maupun bidang lainnya juga dapat mengambil bagian melalui keahlian masing-masing.
Tiza menambahkan, semakin banyak anak muda yang memahami persoalan lingkungan merupakan perkembangan positif. Namun, kesadaran tersebut perlu dilanjutkan menjadi aksi dan dampak yang lebih luas, baik melalui komunitas, organisasi, kebijakan, maupun usaha ramah lingkungan.
Diskusi juga menyoroti peran teknologi digital dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan. Tiza menjelaskan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk melacak penggunaan kembali kemasan, mendukung sistem guna ulang, hingga membantu proses pemilahan dan daur ulang melalui informasi digital.
Sementara itu, Jerhemy mengajak peserta memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan edukasi dan mengampanyekan perilaku ramah lingkungan. Menurutnya, suara anak muda tetap berarti ketika digunakan untuk mendorong perubahan bersama.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengurangi sampah elektronik dengan memperpanjang usia pakai perangkat. Kebiasaan mengganti telepon seluler atau laptop terlalu cepat, padahal masih dapat digunakan, berpotensi menambah timbunan sampah elektronik.
“Yang paling penting, kita harus memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan. Kita juga harus bisa memperpanjang umur suatu barang,” tuturnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa gaya hidup berkelanjutan berkaitan erat dengan kebiasaan sehari-hari, mulai dari mengurangi konsumsi, menggunakan barang lebih lama, hingga lebih bijak dalam memenuhi kebutuhan.
Melalui diskusi ini, peserta diajak memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Masyarakat, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan generasi muda perlu bergerak beriringan agar perubahan tidak berhenti pada wacana.
“Bagi anak muda, langkah awalnya dapat dimulai dari hal sederhana yang dilakukan secara konsisten. Sebab, kepedulian yang diwujudkan menjadi aksi nyata berpotensi tumbuh menjadi gerakan kolektif yang membawa dampak lebih luas bagi masa depan Indonesia,” tutup Jerhemy. (Red)







